BEKASI — Warga RW 15 Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, meluapkan kekecewaan terhadap buruknya pelayanan pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi. Kekecewaan itu kini berkembang menjadi tuntutan agar Kepala DLH dicopot dari jabatannya.

Warga menilai DLH gagal menjalankan fungsi pelayanan publik, meski anggaran pengadaan dan pemeliharaan armada sampah disebut terus dikucurkan setiap tahun.

“Kalau tiap tahun ada anggaran miliaran rupiah untuk pengadaan dan perawatan truk, kenapa kondisinya masih rusak dan tidak layak jalan? Publik berhak mempertanyakan ke mana anggaran itu digunakan,” kata seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurut warga, sejumlah armada pengangkut sampah yang beroperasi di lingkungan mereka dalam kondisi memprihatinkan. Truk disebut bocor, rusak, dan kerap menyebabkan sampah berceceran di jalan saat proses pengangkutan berlangsung.

Warga juga menyoroti pola pengangkutan sampah yang dinilai tidak maksimal. Sampah rumah tangga kerap tertinggal di sejumlah titik dan menimbulkan bau menyengat. Bahkan, sampah berupa ranting kayu atau barang yang tidak memiliki nilai ekonomis disebut sering dibiarkan menumpuk.

Sebaliknya, warga menduga petugas lebih memprioritaskan pengangkutan sampah yang memiliki nilai jual.

“Yang tidak bernilai ekonomi ditinggalkan, sementara yang bisa dijual justru diangkut lebih dulu. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat,” ujar warga tersebut.

Padahal, kata dia, warga rutin membayar iuran sampah melalui RT sebesar Rp500 ribu setiap bulan yang kemudian disetorkan ke pengurus RW untuk kebutuhan pengelolaan kebersihan lingkungan.

Namun, iuran itu dinilai tidak sebanding dengan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.