Jakarta, Nuntium.id - Sebuah video yang menampilkan kemeriahan open house Natal di kediaman Menteri Perumahan dan Permukiman Republik Indonesia, Maruarar Sirait, beredar luas dan memantik reaksi publik. Acara yang terlihat megah dan dipenuhi tamu itu berlangsung ketika Aceh dan Sumatera Utara baru saja diterpa bencana alam yang menyisakan duka dan kerugian besar.
Center for Budget Analysis (CBA) menilai perayaan tersebut kontras dengan situasi korban bencana yang masih berjuang memulihkan kehidupan, sementara pejabat negara dianggap perlu menunjukkan empati di tengah situasi darurat kemanusiaan.
“Ini seperti pesta di atas penderitaan rakyat. Saat masyarakat Aceh dan Sumatera Utara masih berjuang menghadapi dampak bencana, justru ditampilkan perayaan yang terkesan mahal dan berlebihan,” ujar Koordinator CBA, Jajang Nurjaman, dalam keterangannya, Rabu (31/12/2025).
Jajang menekankan bahwa tugas pejabat negara bukan hanya administratif, melainkan juga moral dan etis, terutama ketika menyangkut persoalan kemanusiaan.
“Sebagai Menteri Perumahan dan Permukiman, seharusnya beliau memikirkan kondisi rakyat yang sedang kehilangan rumah, tempat tinggal, dan rasa aman akibat bencana,” kata Jajang.
Selain menyoroti perayaan Natal, CBA juga mengkritik anggaran proyek Layanan Email Kedinasan di lingkungan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang tercatat mencapai Rp141.696.241.000.
“Anggaran sebesar Rp141 miliar lebih itu tidak masuk akal sehat. Padahal membuat layanan email saat ini banyak yang gratis atau berbiaya sangat rendah. Ini bentuk pemborosan uang pajak rakyat,” tegasnya.
CBA juga mempersoalkan mekanisme e-purchasing yang digunakan dalam pengadaan proyek tersebut. Menurut Jajang, skema itu menutup ruang pengawasan publik, sehingga rawan penyalahgunaan.
“E-purchasing ini gelap di mata publik. Tidak bisa dipantau oleh siapa pun kecuali internal kementerian itu sendiri. Ini sangat rawan penyalahgunaan,” ujarnya.

