Jakarta - Pengadaan truk sampah listrik oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta menuai sorotan. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai terdapat kejanggalan dalam lonjakan anggaran dan harga satuan kendaraan tersebut dalam kurun waktu satu tahun.
DLH DKI Jakarta diketahui mulai mengoperasikan truk sampah listrik tipe compactor berkapasitas 6 hingga 12 meter kubik yang diklaim ramah lingkungan karena sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dan bebas emisi.
Namun, Uchok mengungkapkan bahwa pada 2024 anggaran pengadaan compactor listrik kecil hanya sebesar Rp21 miliar. Angka tersebut kemudian melonjak drastis menjadi Rp109 miliar pada 2025.
“Ini ada kejadian ajaib. Tahun 2024 anggarannya Rp21 miliar, lalu pada 2025 melonjak menjadi Rp109 miliar. Kenaikannya sangat signifikan dan perlu dijelaskan secara transparan,” ujar Uchok dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Tak hanya itu, ia juga menyoroti kenaikan harga satuan per unit truk yang dinilai tidak masuk akal. Pada 2024, satu unit compactor listrik kecil dihargai sekitar Rp4,3 miliar. Namun, pada 2025 harga tersebut naik menjadi Rp4,9 miliar atau meningkat sekitar Rp574 juta per unit.
L
“Yang aneh, spesifikasinya sama. Kapasitas tetap 6,5 meter kubik, tetap listrik penuh, tetap bebas emisi. Tapi harga melonjak tajam. Ini seperti harga cabai saat musim hujan, bedanya cabai memang bisa langka atau kualitasnya berubah,” sindirnya.
Uchok bahkan menyampaikan kritik satir terkait lonjakan harga tersebut.
“Ini truk sampah atau aset properti yang nilainya terus naik? Jangan-jangan ada fitur rahasia, bisa menyanyi, membuat kopi, atau menjadi tempat tinggal,” katanya.