SURABAYA, Nuntium.id – Gelombang keprihatinan mendalam menyelimuti tanah air menyusul aksi kekerasan brutal yang menimpa Wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Menanggapi insiden yang mencederai nilai-nilai demokrasi tersebut, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi memberikan instruksi tegas kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk membongkar kasus ini hingga ke akar-akarnya. Perintah kepala negara ini menekankan pada penangkapan tidak hanya pelaku lapangan, tetapi juga aktor intelektual di balik serangan kimia yang terjadi di jantung ibu kota tersebut.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, saat ditemui di Surabaya pada Minggu (15/03/2025), menegaskan komitmen korps bhayangkara untuk menjalankan mandat langsung dari Presiden. Dalam keterangannya, Kapolri menyatakan bahwa kepolisian telah bergerak cepat membentuk tim khusus guna menangani kasus penyiraman air keras ini dengan standar operasional yang ketat. "Saya telah mendapatkan perintah langsung dari Bapak Presiden untuk melaksanakan pengusutan tuntas secara profesional dan transparan. Beliau menaruh perhatian serius terhadap keselamatan para aktivis dan penegakan hukum di Indonesia," ujar Jenderal Sigit dengan nada bicara yang lugas dan penuh penekanan.
Lebih lanjut, Jenderal Sigit menjelaskan bahwa proses penyelidikan akan mengedepankan metode Scientific Crime Investigation (SCI). Pendekatan ini dipilih untuk meminimalisir kesalahan dalam identifikasi dan memastikan bahwa alat bukti yang diajukan ke persidangan nantinya bersifat tak terbantahkan. Kapolri mengakui bahwa saat ini penyidik masih berada dalam fase krusial pengumpulan keterangan saksi dan analisis rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.
"Tentunya tetap mengedepankan scientific crime investigation. Saat ini, kita sedang melakukan pengumpulan informasi-informasi dan informasi-informasi tersebut nantinya akan kita dalami satu per satu melalui analisis laboratorium forensik dan digital," tegasnya.
Kronologi peristiwa yang menggegerkan publik ini bermula pada Kamis malam, 12 Maret 2025. Andrie Yunus, yang dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu pelanggaran hak asasi manusia, menjadi target serangan saat berada di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat.
Dua orang tak dikenal yang berboncengan sepeda motor dilaporkan mendekati korban dan langsung menyiramkan cairan kimia pekat ke arah wajahnya sebelum melarikan diri ke arah keramaian. Lokasi kejadian yang berada di kawasan strategis namun minim penerangan pada titik tertentu diduga telah dipelajari sebelumnya oleh para pelaku, menunjukkan adanya indikasi perencanaan yang matang dalam aksi teror ini.
Dampak fisik yang dialami Andrie Yunus sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan medis terbaru, aktivis kemanusiaan tersebut mengalami luka bakar kimiawi dengan tingkat keparahan mencapai 24 persen dari total luas permukaan tubuhnya.
Cairan asam tersebut memicu reaksi peradangan hebat yang merusak jaringan kulit dan otot. Area yang paling terdampak adalah wajah bagian kanan, di mana zat korosif tersebut mengenai mata kanan korban, sehingga mengancam fungsi penglihatannya secara permanen. Selain wajah, luka bakar serius juga ditemukan pada kedua tangan yang diduga digunakan korban untuk menangkis siraman, serta bagian dada.
Tim dokter di rumah sakit tempat Andrie dirawat kini tengah berjuang melakukan serangkaian prosedur debridemen untuk membersihkan jaringan mati dan mencegah infeksi sistemik.


