JAKARTA – Center for Budget Analysis (CBA) mempertanyakan sumber anggaran yang digunakan dalam pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa di wilayah Jakarta. Pertanyaan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, berdasarkan hasil penelusuran lembaganya terhadap dokumen anggaran dan realisasi program di lingkungan Polda Metro Jaya.
Menurut Uchok, CBA tidak menemukan pos anggaran yang secara spesifik mencantumkan kegiatan pengamanan aksi demonstrasi mahasiswa dalam dokumen yang ditelaah.
"Karena itu, Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri perlu memberikan penjelasan kepada publik mengenai sumber anggaran yang digunakan untuk kegiatan pengamanan aksi unjuk rasa tersebut," kata Uchok dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan, pengerahan personel kepolisian dari markas menuju lokasi aksi memerlukan dukungan operasional dan logistik yang tentu membutuhkan pembiayaan. Oleh sebab itu, menurutnya, penggunaan anggaran dalam kegiatan tersebut perlu dijelaskan secara transparan.
"Pergerakan personel dari kantor kepolisian ke lokasi unjuk rasa memerlukan dukungan logistik dan biaya operasional. Karena itu, sumber pembiayaannya perlu diketahui publik," ujarnya.
CBA menyebut telah menelaah anggaran pada 38 satuan organisasi di lingkungan Polda Metro Jaya. Dari hasil penelusuran tersebut, lembaga itu mengaku tidak menemukan alokasi anggaran yang secara eksplisit diperuntukkan bagi pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa.
Selain itu, berdasarkan data yang dihimpun CBA, hingga 16 Juni 2026 Polda Metro Jaya telah merealisasikan sekitar 422 program kegiatan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai sekitar Rp415,5 miliar.
"Dari realisasi anggaran tersebut, kami tidak menemukan pos yang secara khusus mencantumkan pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa," ujar Uchok.
Atas dasar temuan tersebut, CBA meminta Polda Metro Jaya memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme dan sumber pembiayaan yang digunakan dalam pengamanan aksi demonstrasi mahasiswa.